HealthcareUpdate News

Air Jakarta Didominasi Kondisi Tercemar Berat, Pakar Ungkap Penyebab dan Serukan Perbaikan Mendesak

Kualitas air di Jakarta yang kini didominasi pencemaran berat memicu kekhawatiran para peneliti dan pejabat lingkungan karena ditemukan bakteri koli tinja hingga limbah rumah tangga yang tidak terkelola dengan baik.

Kualitas air di Jakarta kembali menjadi sorotan setelah berbagai penelitian dari IPB University, Universitas Indonesia, dan Institut Teknologi Bandung mengungkap bahwa sebagian besar air tanah dan badan air di ibu kota masuk kategori tercemar berat. Temuan ini diperkuat dengan keberadaan bakteri koli tinja serta limbah domestik yang langsung mengalir ke lingkungan tanpa pengolahan memadai.

Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Dudi Gardesi Asikin, menjelaskan bahwa pencemaran terutama dipicu oleh pembuangan grey water, yaitu air limbah rumah tangga yang berasal dari bak mandi, pancuran, wastafel, hingga mesin cuci. Meski tidak mengandung tinja atau urine, limbah ini belum terkelola dengan baik dan akhirnya meresap ke tanah maupun mengalir ke badan air. “Sebagian besar grey water di Jakarta masih dibuang langsung tanpa pengolahan, sehingga mencemari air tanah dan permukaan,” ujarnya.

Masalah serupa juga terjadi pada instalasi septic tank yang tidak memenuhi standar. Dr. Liyantono, Sekretaris Eksekutif PPLH IPB University, menegaskan bahwa septic tank yang bocor atau tidak laik bisa merembes menuju resapan air tanah. “Bocoran dari septic tank sangat berisiko mencemari air tanah Jakarta,” tegasnya. Ia juga mengungkap temuan dari Lemtek UI terkait keberadaan bakteri koli tinja dalam air tanah warga. “Seharusnya bakteri koli tidak boleh ada sama sekali berdasarkan Permenkes Nomor 2 Tahun 2023. Hal yang unik, di beberapa lokasi, saluran grey water bercampur dengan saluran buang air kecil,” jelasnya.

Read More  Maybank Indonesia Pacu UKM Lewat Strategi Keuangan Berkelanjutan

Peneliti IPB University lainnya, Dr. Zaenal Abidin, menambahkan bahwa di beberapa titik seperti Waduk Rawa Kepa, ditemukan saluran grey water dan black water yang langsung menuju badan air lewat perpipaan rumah tangga. “Akibatnya, risiko pencemaran bakteri koli dan koli tinja meningkat, dan ini berbahaya bagi kesehatan manusia,” ungkapnya. Ia menilai kondisi ini tidak bisa dibiarkan. “Upaya penyediaan septic tank komunal dan sistem pengelolaan limbah harus dibuat secara luas untuk memenuhi kualitas lingkungan yang lebih baik.”

Melihat tingginya tingkat pencemaran, sejumlah pakar menilai masyarakat perlu mulai mempertimbangkan beralih dari air tanah menuju sumber air yang lebih terjamin seperti air perpipaan (PAM), terlebih di kawasan yang kualitas air tanahnya sudah tidak layak. Perbaikan pengelolaan limbah domestik, peningkatan kesadaran warga, hingga pembangunan instalasi pengolahan air limbah skala besar dinilai harus menjadi prioritas pemerintah daerah.

Pakar lingkungan juga menegaskan bahwa tanpa intervensi serius, Jakarta berpotensi menghadapi krisis kesehatan masyarakat akibat paparan bakteri berbahaya dari air tanah yang tercemar. Perubahan perilaku warga dan pembenahan sistem sanitasi menjadi langkah yang tidak bisa ditunda lagi.

Back to top button